Sweeping Software Bajakan I Am Legend
Jun 01

Setelah sekian lamanya para Legeslatif di Aceh menimbang-nibang, menghitung-hitung dan mengali-ngali (sekaligus membagi-bagi), akhirnya disahkan juga dana APBA di Nanggroe Aceh Darussalam. Dana APBA Aceh dengan alokasi dana terbesar bidang pendidikan seperti kutipan harian berikut ini :

BANDA ACEH - DPR Aceh, Jumat (30/5) malam mengesahkan RAPBA 2008 menjadi APBA 2008 dengan komposisi pagu belanja Rp 8,5 triliun, pendapatan Rp 6,646 triliun, dan devisit Rp 2,248 triliun…

dengan pengalokasian :

….Usulan proyek drainase untuk Kota Banda Aceh yang semula dialokasikan Rp 100 miliar, pagunya dikurangi Rp 26,850 miliar sehingga menjadi Rp 73,150 miliar.

Dana yang diambil (dikurangi) sebesar Rp 26,850 miliar itu, menurut Raihan, digunakan (dialihkan) untuk usaha ekonomi gampong Rp 11,5 miliar, pengadaan mobil dinas KIP/Panwaslu sebanyak 7 unit Rp 1,4 miliar, bantuan untuk wartawan Rp 500 juta, anggaran untuk KIP Aceh Jaya dan Subulussalam Rp 3 miliar, tambahan dana untuk cleaning service Rp 800 juta, pelaksanaan kegiatan Dunia Melayu dan Dunia Islam Rp 5 miliar, rehab gedung narkotika Rp 3,5 miliar, tambahan gaji DPR Aceh yang terpangkas pada waktu rasionalisasi anggaran Rp 650 juta, dan kajian untuk menjadikan Simeulue dan Pulau Banyak menjadi Kawasan Ekonomi Terpadu Rp 500 juta….

Bidang Pendidikan :

Belanja langsung akan digunakan untuk bidang infrastruktur hampir mencapai Rp 3 triliun dan pendidikan Rp 1,1 triliun lebih. Meski alokasi dana pendidikan belum mencapai 20 persen dari total belanja APBA 2008, tapi ini ini merupakan jumlah yang terbesar sepanjang sejarah Provinsi Aceh, kata Waisul.

Bagi saya ini hal yang biasa, kita harus kembali kepada janji-janji para calon pemimpin saat mencalonkan diri menjadi pemimpi negeri ini. Hampir semua calon Gubernur saat kampanye dan jelasnya saat penyampaian visi dan misi, semua mengatakan akan memprioritaskan bidang pendidikan (pendidikan gratis) & ekonomi masyarakat (lapangan kerja, mengundang investor dst). Masih banyak lagi hayalan-hayalan yang diucapkan. Tapi ya sudahlah, kalau kita mengingat akan hal masa lalu kita tidak akan pernah terbangun untuk melihat masa depan. Alokasi dana pendidikan sebesar Rp. 1,1 triliun, memang dapat dikatakan usulan terbesar tapi yang menjadi pertanyaan masyarakat akankah dana ini nantinya dapat benar-benar bermanfaat..?? Sepertinya tidak ada yang dapat menjamin, dana ini akan memberikan pengaruh pada dunia pendidikan di Aceh. Atau mungkin pertanyaan ini kita kembalikan saja kepada para pelaku di dunia pendidikan saja, mulai dari Kepala Dinas, Guru serta unsur yang terkait lainnya. Mampukan mereka merubah mutu pendidikan di Aceh??

Kita hanya bisa menantikan bukti nyata dari rumusan panjang perencanaan masa depan rakyat, khususnya rakyat Aceh yang ingin maju dan bermartabat di mata dunia.

Leave a Reply